Yang Lincah Yang Bertahan

Sebuah kalimat yang sering digunakan dan diucapkan oleh banyak orang adalah seruan dari Charles Darwin bahwa yang akan bertahan adalah yang paling bisa menyesuaikan dengan lingkungan, bukan yang paling kuat. Kalimat ini menghiasai berbagai rubrik-rubrik tulisan, dinding-dinding perusahaan dan berbagai dinding lainnya

Apakah yang memasang didindingnya kemudian melaksanakan apa yang tertulis itu? Jangan-jangan itu hanya untuk hiasan semata.

Pandemi Covid-19 ini seakan membuka mata kita semua, banyak perusahaan dan institusi bisnis yang sebenarnya hidup dengan masa lalunya. Hal ini ditandai dengan keterkagetan mereka akan kenormalan baru ini. Sebagian bahkan setengah memaksa menerima kondisi ini dan setengah memaksa kita kembali ke masa lalu dan kenormalan lama.

Hal ini lah yang membuat bisnis tidak akan bertahan lama. Bukan karena kalah uang dan kalah kuat, tapi kalah cepat menyesuaikan diri.

Contoh sederhana yang dialami penulis. Saat membeli buku dari sebuah platform marketplace penjual online. Penulis membeli buku dari dua toko. Satu toko adalah toko yang sudah terkenal memiliki outlet di mana-mana dan kemudian membuka lapaknya di platform marketplace tersebut. Toko satunya lagi adalah murni penjual online yang tidak ada toko fisiknya.

Proses pemesanan dan pembayaran dilakukan pada hari yang sama dengan jeda waktu 5 menit. Setelah 2 hari, buku yang dipesan dari penjual online murni tanpa toko fisik, sudah tiba di rumah. Sementara toko fisik baru mengirimkan bukunya (dari tanda bukti resi) di hari saat buku dari penjual online murni sudah diterima di rumah.

Bayangkan! 2 hari setelah pembayaran, buku baru dikirim via kurir. Sementara buku dari penjual online murni sudah diterima penulis dan siap dibaca.

Anda bingung? Saya juga bingung.

Bukankah toko fisik yang sudah besar dengan begitu banyak cabang itu memiliki karyawan dalam jumlah banyak dan pastinya modal lebih banyak. Mengapa harus membutuhkan 2 hari sementara penjual yang lain dalam 2 hari sudah diterima oleh pelanggan?

Ini tentu bukan tentang modal

Apalagi tentang jumlah tenaga pekerja

Dan jelas juga bukan karena tidak mengerti alamat kantor kurir untuk pengiriman

Pastinya juga bukan karena tidak punya koneksi internet untuk memproses pemesanan

Jadi tentang apa?

Mungkin hanya mereka dan Tuhan yang tahu

Sebagai pelanggan. Kita hanya tahu satu hal: penjual dengan produk yang tepat, harga sesuai dan cepat, itulah yang akan dipilih!

Dan itulah formula untuk menang dalam persaingan di masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Formula nya tidak pernah berubah

Lalu kenapa?

Perusahannya yang tidak mau menyesuaikan diri

Saat kecil masih cepat

Saat membesar semakin melamban

Semakin membesar semakin tidak mau bergerak

Besar di masa lalu, adalah beban untuk masa depan

Pengalaman di masa lalu, adalah hambatan untuk masa depan

Yang bertahan di masa depan hanya satu: mereka yang lincah!


Sumardy
Konsultan pemasaran yang percaya bahwa word of mouth dan customer loyalty adalah kunci pertumbuhan bisnis perusahaan. Telah berkarir selama 18 tahun di industri pemsaran, pernah bekerja di MarkPlus dan Octovate dan kemudian memulai bisnisnya sendiri dengan mengembangkan agensi digital: Pingfans

(Visited 10 times, 1 visits today)