Dari Mulut Ke (Mulut) Telinga

Produk atau merek apa yang paling sukses di dunia semenjak adanya planet bumi ini? Kita pasti akan langsung memikirkan beberapa nama merek dari berbagai produk seperti mobil, komputer, handphone atau yang lainnya. Sangat jarang yang memberikan jawaban yang satu ini : Agama. Agama adalah produk dengan umur yang paling lama dan semua agama memiliki konsumen yang loyal. Satu hal yang sama dari semua Agama : mereka berkembang dengan mengandalkan “getok tular” (dari mulut ke mulut) alias rekomendasi dari satu orang ke orang lainnya, dari satu generasi ke generasi lainnya, dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Agama tidak pernah beriklan, bukan?

Kalau produk yang sesukses Agama berkembang dengan getok tular, lalu kenapa perusahaan saat ini justru sangat mengabaikan getok tular dari konsumennya? Setiap manusia (dan konsumen) pastinya akan lebih mempercayai informasi dan rekomendasi dari teman atau kerabat dekat yang dikenalnya sebelum mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk. Pemasaran getok tular ini memang terbukti lebih efektif dari cara pemasaran seperti apapun. Ia bekerja layaknya virus yang menyebar dari satu anggota tubuh ke anggota tubuh lainnya. Efektif dan Efisien!

Layaknya virus yang menginfeksi komputer melalui media penyimpanan yang removable seperti flash disk. Penelitian membuktikan bahwa flash disk menjadi ancaman terbesar sebagai medium penyebaran virus dari satu komputer ke komputer lainnya. Bayangkan, kalau perusahaan Anda memiliki konsumen yang bekerja seperti flash disk tersebut, menceritakan dan merekomendasikan hal-hal positif tentang merek Anda, bukankah itu promosi yang sangat efisien dan efektif?

Penelitian dari London School of Economics menunjukkan peningkatan 2% getok tular positif dari konsumen akan mempengaruhi 1% pertumbuhan finansial. Di Indonesia, konsumen rata-rata menyebarkan getok tular positif kepada tujuh orang, sementara getok tular negatif kepada 11 orang. Bahkan 67% menjadikan getok tular sebagai sumber informasi untuk memilih merek yang akan dibeli.

Untuk menjalankan pemasaran dari mulut ke mulut ini (tepatnya dari mulut ke telinga), perusahaan bisa memulai dengan mencari pelanggan-pelanggan yang sangat senang dan fanatik dengan merek kita. Misalnya seorang penggemar Ferrari di Jepang: Osamu Enomoto yang bahkan membantu menjual Ferrari di Jepang hingga 1000 unit dari total 10000 unit Ferrari yang beredar di Jepang saat ini. Inilah tipe konsumen “flashdisk” yang dapat menyebarkan virus Ferrari dari satu orang ke orang lainnya.

Mereka adalah pelanggan-pelanggan dengan tingkat fanatisme yang tinggi (brand fans). Ciri-ciri mereka antara lain selalu mendukung merek yang digunakan terlepas apakah merek tersebut sedang menjadi pujaan atau cacian masyarakat, memberikan nilai tambah bagi perusahaan dengan berbagai masukan, ide bahkan usulan program pemasaran dan yang paling utama adalah menceritakan hal-hal positif tentang merek (positive word of mouth).

WOMM tidak lah hanya sekedar membuat konsumen membicarakan namun juga mempromosikan dan bahkan menjual merek tersebut – seperti Enomoto – kepada teman-teman dan keluarganya.Pemasaran getok tular adalah bagaimana membuat konsumen membicarakan, merekomendasikan dan membantu penjualan merek kita.

WOMM bekerja dengan sangat sederhana, tidak memerlukan cerita yang super fantastis atau yang heboh. Bisa dimulai dari mengumpulkan cerita-cerita positif tentang merek Anda. Cerita tersebut bisa dikumpulkan dengan berbagai cara baik yang bersifat offline dan online. Ini bukan testimonial, testimonial sudah ketinggalan jaman dan sering dipersepsikan dibayar. Ini adalah cerita otentik, jujur dan asli dari semua konsumen Anda. Kumpulkan itu, publikasikan ceritanya (online maupun offline) dan biarkan semua orang membacakan dan merasakan cerita tersebut. Hanya kumpulan-kumpulan cerita positif yang otentik inilah yang dapat menetralisir cerita negatif. Cerita negatif tidak akan pernah terselesaikan hanya dengan sekedar ucapan permintaan maaf di surat pembaca. Konsumen pada dasarnya lebih memberi simpati dan kepercayaan pada sesama konsumen dibandingkan jawaban perusahaan di media massa.

Ayo! Kumpulkan cerita-cerita positif tentang produk dan merek Anda dan mulailah menjalankan pemasaran dari mulut ke (mulut) telinga!

(Visited 8 times, 1 visits today)